Hamengkubuwono IX, Open Source, dan Kita

Pendahuluan

alam logika sepintas saja, mungkin sulit sekali menghubungkan Sultan Hamengkubuwono IX dengan Open Source. Logika sederhana, paling tidak, hanya akan mereferensikan wacana Sultan sebagai ikon kuno, kepemimpinan, dan masa lampau. Sebaliknya, wacana Open Source menjadi ikon modernitas, teknologi, dan kekinian.

Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX), salah seorang raja Mataram, pahlawan nasional negara kita, tokoh kemerdekaan, serta pemimpin dengan jiwa kerakyatan yang karismatik. Beliau lekat dengan ungkapan “Tahta untuk Rakyat”. Semua berasal dari berbagai cerita yang tersebar melalui media dan kisah-kisah lisan di masyarakat.

Open Source juga adalah salah satu raja dalam “kerajaan” piranti lunak dunia teknologi informasi, pembawa semangat kemerdekaan, penyebar dan pengembang pengetahuan melalui teknologi yang ekonomis.

Melalui persamaan-persamaan itulah benang merahnya akan ditarik dan dijadikan bahan obrolan kita selanjutnya.

Patriotik Membela Negara

idak ada sangkalan kita tentang hal ini pada Sultan HB IX. Banyak gambaran sejarah melukiskan berbagai sikap pembelaan beliau pada tanah airnya. Kisahnya menghadang kedatangan Belanda di muka istana, sikap heroiknya membiayai gaji para menteri saat Indonesia dalam pengungsian di Yogyakarta, hingga apa yang dilakukannya saat menjadi wakil presiden RI sudah cukup menarasikan jiwa besar itu.

Sultan HB IX, yang memiliki latar belakang pendidikan Barat malah tidak pernah lekang cintanya pada Indonesia. Terbukti, justru dengan talentanya, beliau menjadi tercerahkan untuk menyambut panggilan Pertiwi yang membutuhkan pemimpin seperti dirinya. Padahal dengan semua yang dimiliki, bisa saja beliau memilih jalan yang berbeda dengan memanfaatkan harta dan kedudukannya untuk menikmati privilege sebagai raja, seperti yang dilakukan raja-raja Eropa di Era Kegelapan. Ternyata yang seperti itu tidak dilakukan HB IX, dia memilih jalan patriotik: membela tanah air.

Open Source pun sejalan dengan semangat itu. Dalam tatanan Open Source pembelaan pada kepada para pengguna adalah sisi berlawanan dengan konsep dasar industri yang membela kepentingan pengusaha dan kapital. Konsep ini memutar balik sebuah sistem yang sudah berlangsung sejak Revolusi Industri.

Secara sederhana dalam logika industri, orang “dipaksa” membeli dan menggunakan apa yang ditentukan produsen. Secara tidak langsung dituntut menjadi konsumtif: mengeluarkan biaya, menjadi tergantung, menjadi “ketagihan”, dan menjadi terus membeli. Open Source sebaliknya: pengguna dipersilakan memilih sesuai kebutuhan, menggunakan, mempelajari, memodifikasi, dan mendistribusi tanpa membayar apapun secara finansial atas semua layanan itu. Mereka bahkan di-encourage untuk memberdayakan dan menjadikan diri mereka agar mandiri.

Empatis dengan Sekitar

isah empati Sultan HB IX tersebar di mana-mana. Hampir semua sikapnya menunjukkan jiwa yang nJawani: rumangsa dan tepa salira. Dalam diri beliau barangkali tertanam begitu kuat sifat empatis itu. Oleh karenanya, beliau  ditakdirkan menjadi raja yang bijaksana.

Alkisah suatu ketika beliau diperlakukan sebagai sopir, disuruh-suruh seorang penjual pasar Kranggan untuk mengantarkan pikulan dan barang-barangnya ke pasar tersebut. Setelah belakangan tahu bahwa sang sopir adalah rajanya, konon si pedagang pasar itu pingsan.

Cerita di atas begitu memesona kita. Betapa tidak, raja yang duduk dalam hirarki tertinggi sebuah komunitas kerajaan, ternyata begitu empatis dengan beban berat rakyatnya. Mirip kisah Umar ibn Khattab r.a. ketika ia membawakan sekarung gandum, pada suatu malam untuk sebuah keluarga kelaparan yang bahkan tidak tahu siapakah si pengangkut gandum yang dermawan itu. Sebuah kejadian yang jelas menunjukkan empati seorang pemimpin yang turut merasakan apa yang dialami rakyatnya.

Kedermawanan Sultan HB IX dan Umar r.a. terjadi di dalam dunia teknologi informasi.

Richard Stallman, salah satu pelopor Open Source (Free Software), menyampaikan pernyataannya: The idea that the proprietary software social system—the system that says you are not allowed to share or change software—is antisocial, that it is unethical, that it is simply wrong. Sebuah manifesto yang sangat keras ditujukan kepada industri closed source—industri piranti lunak yang mengharuskan orang membeli sebelum menggunakan program sekaligus melarang modifikasi dan distribusinya.

Open Source-Free Software mendistribusikan secara gratis untuk publik aplikasi maupun operating system. Bukan itu saja, proses penggunaan, modifikasi, dan distribusi tidak dinyatakan sebagai tindak kejahatan. Pengguna bahkan diberi banyak bantuan cuma-cuma atau rendah biaya (jika ada). Kalaupun berbiaya, servis yang diberikan vendor Open Source sifatnya lebih banyak pada penggantian biaya produksi ketimbang profit. Sekali lagi itu membuktikan bahwa orientasi yang berpihak pada kebutuhan pengguna. Ya, dengan memberikan kesempatan yang luas untuk penggunaan, modifikasi, dan distribusi. Sebuah orientasi pembelaan yang humanis-empatik yang diberikan Open Source pada penggunanya.

Berjiwa Merdeka Berawal dari Keberpihakan pada Potensi Internal

erdeka dalam makna bebas dari penjajahan bangsa lain, jelas merupakan tema yang sama yang dibela para pejuang dan segenap bangsa Indonesia sejak era Kebangkitan Nasional tahun 1908. Demikian pula Sultan HB IX, sekalipun dirinya memperoleh pendidikan dari Barat yang notabene negara penjajah, beliau tetap berkomitmen menjauhkan bangsa ini dari penjajahan. Pendidikan alami yang diterimanya dari kehidupan keseharian bangsanya sendiri yang njawani, ternyata tidak dibatasi oleh dinding dan protokoler keraton.

Berjiwa merdeka dipahami sebagai keberpihakan pada potensi internal bangsa sendiri. Artinya, itu mengabaikan atau menghancurkan mitos dan jargon palsu yang dibuat penjajah seperti ketidakmampuan dan keterbelakangan pribumi. Bukankah faktanya kemandirian bangsa kita telah ada jauh saat kerajaan Kutai berdiri di abad 4 M? Bukankah kemandirian politis sudah ditunjukkan jauh hari saat Sriwijaya dan Majapahit merentang kedaulatan sepanjang Nusantara? Bukankah kesadaran berbangsa dan berserikat sudah dimulai 1905 saat Serikat Dagang Islam berdiri?

Open Source-pun demikian. Apresiasi pengembang piranti lunak bukan hanya kepada para programmer-nya saja, namun juga pada para penggunanya. Para pengguna dilibatkan dalam pengembangan Open Source. Pertanyaan, keluhan tentang prosedur, bug, saran, dan kesan dari mereka dijadikan sebagai penyempurna piranti lunak.

If you treat your beta-testers as if they’re your most valuable resource, they will respond by becoming your most valuable resource. Demikian salah satu pesan Eric S. Raymond dalam The Cathedral and the Bazaar tentang bagaimana membuat piranti lunak Open Source yang baik.

Secara langsung pengembangan Open Source memang berpihak kepada potensi internal pengguna dengan menjadikan mereka sebagai resource yang hebat dan bisa diberdayakan. Open Source berupaya menyadarkan para penggunanya bahwa mereka adalah bagian yang besar dan berarti dari sistem pengembangan. Tidak seperti closed source yang cenderung memberikan tuntutan kepada para pengguna untuk menerima apa adanya yang diberikan oleh pengembang, sehingga penggunanya cenderung pasif dan pragmatis.

Taat Hukum

agaimana Sultan HB IX berhadapan dengan polisi Royadin adalah kisah inspiratif lainnya. Kebesaran jiwa Sultan dan Royadin terlihat di sana. Royadin berupaya menegakkan hukum dengan benar dengan menilang Sultan yang melanggar lalu lintas. Sultan HB IX sebagai pelanggar hukum pun taat menerima tilang tersebut dengan menyerahkan rebuwes-nya sebagai tanda tilang.

Sisi  kebesaran itu cermin dari keharusan setiap  individu yang hidup dalam tatanan masyarakat dengan menghormati hukum yang berlaku–tanpa memperhatikan siapapun dia.

Open Source pun demikian. Kebebasan menggunakan, mempelajari, memodifikasi, dan mendistribusi piranti lunak adalah sebuah upaya untuk taat pada hukum. Apa sisi-sisi ketaatan itu?

Kesatu, dengan mengunakan Open Source seharusnya orang tidak lagi melakukan tindakan pembajakan karena tidak terbelinya piranti lunak berbayar. Orang hanya tinggal mengunduh, menginstalasi, dan menggunakan. Nyaris tanpa biaya dan: legal!

Kedua, sekalipun bebas biaya dalam banyak hal, produk-produk Open Source juga terlindungi oleh ranah hukum, konvensi, hingga kesepakatan-kesepakatan umum yang juga harus dihormati. Artinya, sekalipun banyak hal yang dibebaskan, itu bukan berarti kebebasan tak terbatas. Kita diharapkan menghormati kerja orang-orang yang telah berkontribusi dengan tetap menjelaskan sumber, data modifikasi, dan tetap mengizinkan orang lain mengakses dan menggunakan hasil modifikasi kita.

Dalam konteks praktis yang sangat luas, Open Source sebenarnya merupakan sebuah solusi yang baik untuk mengedukasi publik melalui alternatif menghindarkan diri dari perbuatan melanggar hukum sekaligus memberi pilihan sarananya sekalian untuk taat hukum.

Berpikir Terbuka Demi Kemajuan

engan cara berpikir yang terbuka, pendidikan Barat yang konon demokratis dan pendidikan istana Jawa yang aristokratis ternyata menghasilkan seorang Sultan HB IX yang berpikir modern sekaligus tetap memijakkan diri pada keluhuran budaya bangsanya. Bukan menjadi sultan yang mengeksploitasi ke-raja-annya. Bukan pula raja yang skeptis yang tak berbuat apapun atas semua kejadian di kerajaannya. Tentu kita tidak akan melihat peninggalan yang baik, jika Sultan berpikir tidak terbuka.

Cara berpikir yang sama sebenarnya juga ditularkan oleh Open Source kepada para penggunanya. Mereka diedukasi untuk selalu terbuka dengan hal-hal baru, karena lompatan teknologi informasi selalu membuat kejutan-kejutan setiap inovasinya. Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap inovasi yang baik akan semakin meningkatkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Kemudahan dan kepraktisan teknologi yang baik juga akan menyadarkan orang akan sisi kemanusiaanya sebagai makhluk sosial.

Cara berpikir terbuka yang dibangun oleh Open Source juga mengingatkan para penggunanya bahwa source code terbuka adalah bentuk praktis membagi kebersamaan melalui penguasaan teknologi IT. Pengembangan Open Source melalui komunitas-komunitas yang ada di dalamnya sekaligus membalikkan logika industri piranti closed source yang berpangkal pada penguasaan individual.

Lalu, Bagaimana Kita?

oentjaraningrat dalam salah satu definisi yang ditesiskannya menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Sultan HB IX dan Open Source memberikan banyak keteladanan bagi kita. Kita bisa belajar banyak untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih baik dengan sikap patriotik, empatis, jiwa merdeka, menghormati hukum, dan berpikir terbuka.

Dengan demikian, implementasi teknologi yang kita lakukan akan meningkatkan kualitas kehidupan kita tanpa harus mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang semakin berkurang oleh gerusan arus modernisasi yang semakin kuat. Menggunakan teknologi dengan kesadaran demikian akan menjadikan kehidupan kita maju sambil tetap mempertahankan harmoni kita dengan alam.

Maka dengan ber-Open Source, sebenarnya kita telah meneladani  Sultan Hamengkubuwono IX dan para pemimpin lainnya  dalam kerangka  membangun kehidupan yang lebih baik dengan teknologi informasi yang patriotik, empatis, merdeka, legal, dan lebih terbuka.

Ayo ber-Open Source!

***Gambar berasal dari sini dan diolah dengan Inkscape dan GIMP

About sad_ewing

Me, myself, more or less

31. May 2012 by sad_ewing
Categories: Migrasi | 47 comments

Comments (47)

  1. Hebaattt, semangat open source dan Sri Sultan HB IX ternyata sejalan ya …

    • Ya, tentu sejalan, walau kita tidak tahu, apakah jika beliau masih ada, apakah Open Source akan jadi pilihan beliau untuk konten komputer yang beliau pakai :). Cuma saya percaya, jika Open Source terpahami dengan baik keutamaannya, raja sebijaksana beliau pasti memilih Open Source… Matur nuwun sudah mampir.

    • Setelah membaca post ini ternyata antara sultan HB IX maupun open source banyak hubungan diantara keduanya. Ini membuka pengetahuan akan keduanya bagaimana HB IX terbuka kepada rakyatnya , bagaimana beliau memperjuangkan pembelaan terhadap tanah air. Begitu juga dengan pemahaman akan open source dengan ini saya semakin tahu bagaimana sebenarnya pemahaman mendasar atau pengetahuan mendasar akan open source yang selama ini pemahaman diluar akan open source ,bahwa open source itu hanya sebatas gratisan ..

      • Mas Okky.
        Sebetulnya ulasan ini agak terlalu “tendensius”, ya. Sikap dan sifat seperti yang dilukiskan ada dalam diri HB-IX, juga sebenarnya ada hampir pada semua orang baik. Artinya sikap patriotik, merdeka, dan seterusnya itu, memang ada dalam filosofi gerakan Open Source. Saya hanya mencoba membahas sisi nonteknis wacana ini. Maklum, menurut saya apa yang menjadi dunia teknologi itu “kering” adalah miskinnya pembahasan wacana humanisme di dalam TIK. Itu sebanya barangkali Indonesia tidak perlu ikut-ikutan dunia TI yang lebih dulu “kering” seperti di Barat. Kita yang di Timur, tentu bisa membangun kebudayaan sendri–karena budaya kita sebetulnya setua mereka juga, dengan membangun wacana teknis yang berakar pada ketimuran kita…

        Kembali ke masalah HB IX, memang saya sedikit banyak berharap bahwa ada pemahaman–dalam rangka 100 tahun Sinuwun–gerakan ber-Open Source pun adalah gerakan yang sama keteladanannya dengan sikap-sikap luhur beliau.

        Matur nuwun, sudah menyumbang pikiran di sini.

        • Ah, iya, saya lupa menambahkan, bahwa pemahaman itu memang sebaiknya dipahami berulang:

          Open Source tidak identik dengan gratis

          dan

          Open Source tidak identik dengan Linux

          Kedua quotes itu menjelaskan bahwa sekalipun Open Source itu banyak yang didistribusikan dengan gratis, namun keutamaannya terletak pada (0) diizinkannya penggunaan aplikasi atau operating system, (1) terbukanya source code, (2) diizinkannya modifikasi atas source code, (3) dilegalkannya penggandaan dan distribusi. Semua memang gratis secara ekonomis, namun makna terkuatnya adalah jiwa kebebasan pada keempat hal tersebut

          Quotes yang kedua menjelaskan bahwa Open Source tidak identik dengan Linux, karena banyak operating system dan aplikasi selain Linux yang juga menggunakan Open Source. Open Office, Mozilla Firefox, GIMP, dan Inkscape, misalnya, adalah aplikasi-aplikasi berbasis Open Source yang memiliki kapabilitas untuk running di platform Linux, Windows, dan Mac

  2. Keterbukaan adalah awal dari penerimaan perubahan ke arah kemajuan bangsa dan negara.
    Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX ibarat Opensource. yang terus menerima perubahan yang sesuai dengan ideologi dan kepribadian bangsa Indonesia
    saat ini, prinsip itu haruslah ada sebagai dasar penggerak dari perubahan yang diinginkan dari Sultan HB IX.

    • Han, memang demikian, kiranya. Salah satu awal perubahan adalah ‘kesediaan’ kita untuk membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran di luar pilihan-pilihan kemapanan kita. Kita tidak pernah tahu di luar sana apakah lebih baik atau lebih buruk apabila kita tidak membandingkan dengan milik kita. Pilihan luar itu hanya akan bisa kita implementasikan apabila sesuai dengan ideologi dan kepribadian kita.
      Sip! Slogan hari ini.
      Makasih udah mampir.

  3. wokey sekali

    dg saling berbagi semoga dapat memajukan bangsa dan negara
    hahahaha
    😀

    • Jelas, Yog!
      Saling berbagi pasti bisa memajukan. Asal jangan saling berbagi proyek dan kotoran proyeknya–seperti yang sudah dicokok KPK itu, ya! Berbagi untuk kebaikan saja, lah. Sharing is caring
      Sip!

  4. open source bisa menjadi media belajar untuk kita mengembangkannya sendiri sesuai yg kita inginkan :))

    nice posting 😀 hihihihii

    • Hihihihi… ya, begitulah Open Source. Wacana ini menyebarkan edukasi pembelajaran kepada para penggunanya untuk bereksplorasi secara mandiri serta menyesuaikannya sesuai kebutuhan kita. Banyaknya forum dan dukungan teknis di lapangan menunjukkan banyaknya komunitas yang siap membantu kita di saat belajar. Yang perlu kita lakukan adalah mencoba. Makasih, ya, ya, Lin!

  5. Sungguh luar biasa, seorang pahlawan bangsa yang sangat patriot yang pantut untuk di contoh dan ditiru dimana pak HB IX memiliki jiwa yang nasionalisme untuk membangun dan memperjuangkan nasib negrinya.

    • Ya, begitulah Mas Welly, patriot seperti beliau memang patut dicontoh. Meski susah meneladani heroismenya di alam yang sudah tidak perlu lagi angkat senjata dan perjuangan politik. Mungkin, setidaknya meneladaninya dengan menggunakan Open Source adalah sebuah pilihan praktis: perlu heroisme meninggalkan kebiasaan memakai produk bajakan, belajar sedikit, dan konsisten mempertahankan dan mengembangkan penggunaannya. Ayo, kita coba, ya!

  6. perjuangan keduanya sangat keras ya,,
    tapi saya lebih stuju pada blog ini, dengan persaingan yang sangat ketat ini mending yang tidak berbayar tapi terjamin daripada berbayar tapi tidak terjamin,,
    maju terus open source UGM !!!!

    • Wuiiih, keren, Kang!

      mending yang tidak berbayar tapi terjamin daripada berbayar tapi tidak terjamin

      Today’s quote! Pesan ini menyemangati kita semua untuk mencoba dan terus mengembangkan penggunaan Open Source. Seperti semangat HB X membela kepentingan negeri ini.
      Makasih, ya!

  7. artikel yg bagus sekali. didalamnya ada satu katakunci yang jarang sekali tersentuh ditulisan2 serupa : patriotik. lebih kena rasa passion-nya dan ini bikin tulisannya lebih berjiwa

    • Ahay! Orang jauh mampir juga di sini, ya! Matur nuwun, sudah jalan-jalan lagi.
      Patriotik yang kali ini saya lebarkan referennya kali ini memang bukan lagi pembelaan pada nation–negara. Kalaupun “negara”, maka ini adalah “negara para pengguna” melawan “negara produsen” atau “negara industri”. Patriotik karena kita memang membela sebuah komunitas yang selama ini diarahkan dan dipaksakan memilih, tapi tak ada pilihan lain, selain pilihan-pilihan yang sudah ditentukan mereka. Ini mirip pilihan terpaksa, karena Negeri Api memang menentukan pilihan, karena memiliki teknologi, dibandingkan Negeri Air, Negeri Udara, dan Negeri Tanah… Eh, kok, malah cerita si Aang…

      Eniwe, gimana, perkembangan Degex, Kang?

      • hmmm…btul mas, mirip tp tak sama. malah opensource itu lebih ke gerakan anarkisme. gak perlu ada yg kontrol, gak prlu ada negara2, dia yg ngatur sendiri, organik 😛 dan sesungguhnya bukan kelompok/komunitas yg dibela sama opensource ini, tp ideologinya itu sendiri loh mas, cmiiw

        • Saya membaca-baca ulang tulisan ini:

          malah opensource itu lebih ke gerakan anarkisme

          Ampun, deh! Oooh.. ternyata maksudnya, pembelaan itu pada “ideologi”. Setuju, yang dibela memang “freedom” itu. Bukan pada “orang yang harus dibela dan dimerdekakan”. Orang yang harus “dibela dan dimerdekakan” itu karena imbas bawaan pembelaan pada ideologi kebebasan.

          Wah, mengerikan juga pembahasan begini, kok, sampai ke Ideologi, ya? Walaupun faktanya, di dunia ini apalagi, sih yang dibela selain ideologi itu sendiri?

          Quotes of the day!

          • kalau mau lebih “anarkis” dan “hardcore” ya gerakan free software -nya rms. sila liat http://www.gnu.org/philosophy/fsfs/rms-essays.pdf different words convey different ideas

          • Ini salah satu “kitab suci” yang kerap dibaca. Kata teman di seberang sana, sayangnya, “dakwah” RMS ini katanya sering disebut dakwah terbatas, maksudnya, beliau hanya mementingkan penyampaian idenya, dan aksinya diserahkan pada para penggerak ajarannya. Hingga hari ini jika lihat jadwal beliau di web pribadinya, dia masih seminar terus dengan tema-tema yang sama mengenai Open Source

  8. perbandingan yang mengedepankan semangat dalam nasionalisme yang dilakukan oleh Pak HB IX dan kemajuan teknologi zaman sekarang dengan era keterbukaan informasi membuat penggunanya dapat memilih apa yang dapat membantu dengan cepat keberhasilan dalam pekerjaannya.
    Tinggal bagaimana memilih yang baik dan benar dengan keterjaminan akses didalamnya.
    mungkin lebih baik bekerja sama dalam kelompok yang mengembangkan sistem bersama daripada hanya ikut-ikut saja dalam sistem yang telah dibuat oleh penguasa.
    open source keep friendly for sustainable

    • Weh. Mangstabbbb.
      Para pengguna memang punya menentukan pilihan penggunaan operating system dan aplikasi untuk membantu pekerjaannya, Ver. Yang harus diperhatikan adalah konsekuensi pemilihannya itu. Jika dia memilih OS dan aplikasi berbayar, maka dia wajib membeli (membayar) serta taat atas ketentuan-ketentuan pembeliannya itu. Jika terpenuhi, maka aspek legal terpenuhi pula, tinggal penggunaannya itu dilakukan untuk kegiatan yang baik dan halal atau tidak…

      Jika dia memilih yang tidak berbayar, maka Open Source adalah pilihan yang paling feasible: gratis digunakan, dimodifikasi, dan didisitribusi. Itu semua legal bin halal.

      Lha, jika memang ada yang lebih baik, kenapa pilih yang lebih mahal? ***kata iklan…
      Matur temkyu sudah mampir. Mampir lagi, ya!

      • misi-misi pak,. saya mampir lagi nih,…
        menyambung beberapa kalimat diatas merupakan penjabaran dari pengguna yang mengedepankan hemat and tidak meninggalkan jejak karbon walau sedikitpun. jadi jika berbayar dengan aktifitas harus ini dan itu (lingkaran administrasi) maka untuk keberlanjutan hidup akan ditinggalkan oleh pengguna dan open source yang tanpa aktifitas harus ini dan itu (lingkaran administrasi) akan di datangi pengguna tinggal konsep sosialisasi yang dijabarkan sebagaimana pak Sultan yang merakyat.

        konsep tersebut dapat berupa dari komunitas kita dan menyebar ke lingkaran pertemanan selanjutnya.
        semoga dari mahasiswa dapat menjabarkan ini “open source” sebagai lingkaran yang menggunakan didalamnya.

        tapi gimana ya pak, kalo orang kaya yang ingin lebih baik (OS) lagi sehingga dia membeli apa yang memang sama, namun upgradenya maksimal?

        • Weeehh, si Agan mampir lagi, to.
          Begini, Ver, menurut saya, yang membuat kehebatan penyebaran Open Source adalah pengembangannya yang eksklusif itu. Open Source yang sudah gratis itu, juga disebarkkan dengan cara yang murah, yaitu internet. Bayangkan jika Open Source dijual dengan cara manual dengan CD, DVD, atau flashdisk, berapa biaya produksi yang harus dikeluarkan. Itu belum seberapa jika dipikirkan biaya packing dan kurirnya, pasti membludak.

          Sekali lagi, sudah gratis, biaya distribusi juga rendah, wihhhh.. jadilah murah plus plus…

          Faktor kedua, yang menyebabkan mudah penyebarannya adalah rekomendasi word to mouth. Iklan seperti ini, sangat jauuuuh lebih kuat dari iklan dengan bintang film termahal sekalipun. Open Source sangat diuntungkan dengan cerita pertemanan. Rekomendasi orang per orang ketika keunggulan Linux diceritakan karena kestabilan, antivirus, hingga ‘kecantikan’ –yang membuat orang love at first sight–itu membuat Linux meoket sebagai distro yang diunduh ribuan orang perharinya.

          Lalu bagaimana dengan orang yang punya anggaran lebih, yang tidak ingin gratisan, apakah mereka tetap memilih Open Source? Nah, in ikembali pada hukum rimba ekonomi: orang kaya, memiliki kemampuan (kapabilitas) memilih produk lebih besar ketimbang orng miskin. Artinya, si kaya, bisa memilih produk closed source yang berlipat lebih mahal daripada produk gratisan. Cuma, bayangkan jika si kaya menggunakan produk Open Source: dia menjadi punya kapabilitas untuk membeli service atau meningkatkan kualitas perangkat kerasnya jadi lebih baik lagi. Artinya, dia bisa mengalokasikan kemampuan membelinya untuk kebutuhan yang lain…

          Hayoh, komen lagi!

          • ok, ok deh pak, ini mampir lagi saya. bolehkan pak? heheheee. demi mencari ilmu dan membandingkan nanti jika saya menjadi sukses sesuai dengan apa yang saya konsepkan. this open source bukan seperti itu pak, pengkonsep yang dijadikan satu dalam berbagai banya wadah komunitasnya dalam pengembangnya.

            buat penyebarannya memang terasa bangets pak, misal download2, ex: GIMP. tapi keleamhannya buat orang awam sudah terlalu kena dengan produk bajakan OS yang ada dimana2,. lalu bagaimana pak dengan open source mendeteksi ke penyebaran terhadap orang2 awam, yang alangkah contohnya seperti saya pas belajar open office sama bapak baru mengetahui ini dan bagaimana dengan teman2 yang memang mereka belum tahu, karena untuk kemahiran menggunakan open source itu tergantuk kepada siapa yang tahu terlebih dahulu daripada orang yang belum tahu.

            setuju dengan kedua…, ibarat kata door to door ya yang dimisalkan dari mulut ke mulut, tapi itu dibktikan dengan kenyataan ya., oya pak dari yang dulu unduh linux belum bisa terinstal, mungkin lain waktu bisa bapak bantu saya instal di notebook saya dan dijadikan dua OS… *hehehe maaf pak ngerepotin inih…

            nah ini pak yang ketiga semoga aja ada orang kaya yang bisa memilih lebih, tapi untuk mengedukasi SDM yang memang sudah melekat ke closed source itu bisa lebih mahal dengan open source selain donasi.
            dan pada waktu yang tepat semoga open source bisa dapat diketahui oleh orang2 awam dan masyarakat pada umumnya.

            *maaf pak salah jalur dari tema artikel ini, sejarah bangsa dengan open source.

          • Silakan mampir, lah. Rajin-rajin sajalah berdiskusi. Siapa tahu kita saling tercerahkan.

            Memang kekhasan Open Source di sana itu. Penyebaran tidak dilakukan dengan media konvensional seperti media DVD atau CD yang selama ini dilakukan oleh orang-orang yang membajak aplikasi dan OS closed source. Media ionternet adalah sarana yang sangat sangkil dan mangkus. Terhitung murah dan cepat kecuali bagi bangsa kita yang bandwidt-nya masih mahal dan lemot saat ini. Memang masalah besar kita di antaranya, memang penyebarannya tidak semudah produk yang sudah terlanjur dan menyebar banyak seperti Windows. Maklum, yang pertama cenderung mendapat tempat khusus di alam bawah sadar manusia. Itu sebabnya kita mudah mengingat siapa yang pertama menginjakkan kaki ke bulan, pertama ke Antartika, pertama ke Everest atau sekedar pacar pertama, misalnya. 🙂

            Soal instalasi, kapan sajalah mampir ke lab sini. Biar diinstalkan sekaligus merasakan semangat freedom itu: free of charge, free software walau tanpa free soft drink..

            Orang kaya yang mengedukasi dan memilih Open Source sangat banyak, lho! Termasuk Clem Lavebre (Linux Mint founder), Mark Shuttleworth (Ubuntu founder), dan Linuz Torvalds sendiri. Entah, orang kaya yang lain, mungkin jika memilih dengan sungguh-sungguh Open Source, jelas bukan karena masalah nilai ekonomi yang mereka miliki, namun lebih banyak pada idealisme. Mungkin.

            Cuma bagi saya sendiri, pemilihan Open Source dengan sengaja, karena saya memang tidak bisa membeli produk closed source yang mahal dan idealisme bahwa “sekalipun miskin, saya tidak mencuri”.

  9. Rumangsa dan tepa salira dan sifat empatis yang membuat Sultan HB IX terkenal dimana-mana dan Kedermawanan Sultan HB IX terjadi di dalam dunia teknologi informasi seperti yang diberikan Open Source pada penggunanya humanis dan empatik.
    semoga dapat membangun dan memperjuangkan nasib negri ini?
    Maju terus…!!!!

    • Setuju, Wi!
      Semoga keteladanan itu juga dibaca oleh para pemimpin kita saat ini. Memang, mungkin ada satu dua yang bisa kita harapkan terus bekerja dengan baik dan bijak seperti HB IX, namun rupanya jumlah “satu-dua” itu ternyata belum cukup banyak untuk sebuah negeri sebesar Indonesia ini. KIta masih membutuhkan banyak lagi, mungkin “sejuta-dua juta” pemimpin bangsa untuk membangun bangsa dan memperjuangkan nasib negeri. Termasuk di antaranya peran kita. Peran sederhana, seperti menggunakan Open Source sebagai produk TI yang legal termasuk upaya menuju memperjuangkan negeri ini menuju yang lebih baik.

      Makasih, Wi!

  10. “Mereka diedukasi untuk selalu terbuka dengan hal-hal baru. Mereka bahkan di-encourage untuk memberdayakan dan menjadikan diri mereka agar mandiri.”
    Mengingatkan kita bahwa sebagai rakyat dan pengguna, kita seharusnya tidak terlalu dibatasi, menerima dan menjalankan apa yang ada, tapi kita jg harus ikut berpartisipasi. Layaknya prinsip demokrasi yang selalu dielu-elukan 🙂

    Daebak pak erwiiin 😀

    • Lha, dirimu piye, Nur?
      Jika sudah mulai bahwa sesungguhnya kita dibatasi, apakah juga sudah menambah kesadaran akan segera ber-Open Source secara penuh? Meninggalkan operating system dan aplikasi yang tidak legal? Atau jangan-jangan seperti saya, ya? Masih memulai terus sambil sedikit-sedikit meninggalkan barang-barang bajakan itu? Pokoknya apapun pilihannya, yang penting diawali dengan kesungguhan ingin menjadi lebih baik dengan cara yang baik juga: Open Source!

      Komawoyo, Nur!

  11. ia pak karena perubahan dimulai dari hal yang terkecil baru bisa merubah indonesia…..
    seumpama hal terkecil saja tidak bisa maka jangan menuntut perubahan yang lebih besar,,,,
    perubahan yang kecil akan lebih bermanfaat untuk sekitarnya…
    heheh

    • Hureeee, filosof baru, nih. “Perubahan itu dimulai dari yag kecil. Perubahan kecil lebih bermanfaat untuk sekitarnya.” Lha, dirimu, piye, Wi, sudah mulai perubahan kecil itu? Sudah mulai dirasakan bermanfaat untuk orang sekitarmu? Open Source yang digunakan sekarang sudah dirasakan manfaatnya? mBok diceritakan…

  12. Seperti Sri Sutan Hamengkubuwono IX yang memiliki sifat sosial dan dermawan begitu pula Open Source karena open sorce software yang didistribusikan secara gratis untuk publik aplikasi maupun operating system. Bukan itu saja, proses penggunaan, modifikasi, dan distribusi tidak dinyatakan sebagai tindak kejahatan. Dengan kita bisa turun tangan langsung dalam memodifikasi system tersebut, jadi dapat mengekplorsikan kemampuan pikiran kita dalam memodifikasi system tersebut supaya lebih baik. Jadi kita tidak hanya sebagai pengguna saja tetapi kita juga ikut berpartisipasi dalam merancang system tersebut. Tidak hanya itu saja, saya setuju dengan penggunaan open source karena lebih menghemat biaya.

    • Betuuuul! Setuju! Setuju! Memang bagi para pengguna yang memiliki kemampuan programming, modifikasi Open Source memang menambah keasyikan sendiri. Bukan itu saja, pengguna biasa yang jarang bersentuhan dengan programming saja jika dia eksploratif, dia akan mulai mengenali bahasa pemrograman yang terbuka. Meski hal-hal sederhana, setidaknya dia bisa mulai mengenali perintah cetak miring, cetak tebal, quotes, saat memformat teks.

      Soal biaya, waah, jelas, lah. Biaya yang mungkin timbul mungkin ada, misalnya untuk pelatihan atau service. Hitungannya tidak seberap dengan hasil yang diperoleh. Karenanya gratis itu bermakna ada manfaat tambahan.

      Kita teruskan ber-Open Source, ya!

  13. keduanya memiliki kesamaan yang hampir mirip, Sultan HB IX yang selalu berjuang untuk Yogyakarta serta Indonesia untuk melawan para penjajah belanda. sedangkan open source yang selalu berjuang untuk menjadi yang terbaik serta melawan pemborosan dana. haha
    Sultan HB IX dan open source adalah raja di bidangnya masing-masing… aku kenang terus wahai Sultanku Hamengku Buwono IX serta maju terus open source, berdirilah tegak diatas sana, kibarkan benderamu di dunia teknologi saat ini.

    • Yogi, urusan kibar-kibar bendera juga sepertinya akhirnya dilakukan kelompok closed source. Microsoft, misalnya, sekarang sudah mulai mengakomodasi aplikasi-aplikasi yang dijalankan di bawah OS Windows dengan berbasis pada Open Source juga. Bukan itu saja, program-program khusus mereka juga mulai menggandeng php, apache, MySql dan melanjutkan tradisi dengan Java.. Jika berminat sila kunjungi laman mereka. Ada laman khusus soal itu. Yang belum kelihatan bergereget dengan Open Source saat ini tinggal kelompok Apple. Walau tampaknya sudah banyak aplikasi berbasis Open Source juga yang bisa dipaksa untuk bisa diinstal di OS mereka. Gugling sebentar, pasti akan ditemukan Open Source for Mac.

      Matur nuwun sudah ikut berkampanye di sini dengan saya. Cheers 🙂

  14. Diantara keduanya memiliki kesamaan yang sama. dimana keduanya sama sama terbuka, Sri Sultan HB IX sendiri terbuka untuk rakyat dan Sri Sultan HB IX juga sangat peduli kepada masyarakat, begitupun dengan open source yang juga terbuka untuk umum. keduanya juga bertujuan untuk merdeka. yang dimaksudkan merdeka itu sendiri bebas tapi masih tetap ada aturan.Sri Sultan HB IX juga bisa dikatakan mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk mensejahterkan rakyatnya. untuk merdeka dalam open source yaitu masyarakat umum boleh menggunakan dan memodifikiasi. sehingga bisa lebih mengeksplorasi pengetahuannya tentang open source. tetapi ada aturannya juga masyarakat tidak dibolehkan menggunakan open sorce untuk pembajakan karena pembajakan salah satu tindakan melanggar hukum

    • tetapi ada aturannya juga masyarakat tidak dibolehkan menggunakan open sorce untuk pembajakan karena pembajakan salah satu tindakan melanggar hukum

      Wew… sebetulnya, ini persoalan bagi para pengguna Open Source maupun closed source. Dapatkah mereka mempertahankan konten agar tidak cuma menggunakan operating system dan aplikasi yang legal, sekaligus berupaya menjada kebersihan komputer dan gadget mereka dari data bajakan: film, lagu, teks, hilgga laman-laman yang ilegal didengar, dilihat, atau diunduh.

      Jadi, pengguna Open Source seolah memiliki dua kewajiban yang harus dipenuhi, yang sifatnya konsekuentif: 1) kewajiban tidak menggunakan OS dan aplikasi ilegal 2) kewajiban tidak menyimpan dan menggunakan data-data yang juga ilegal.

      Ya, begitulah. Meski berat, tapi jika dibiasakan, pasti bisa.
      Matur nuwun, Kang Jatmo…

  15. Sultan HB IX ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan. Open source memberi kemerdekaan dalam menikmati software. Sebagai WNI yang baik harusnya mengisi kemerdekaan agar bangsa kita berkembang. Sebagai pengguna open souce yang baik, alangkah lebih baik kita mengembangkan atau memodifikasi software yang ada, karena kita diperbolehkan melakukannya (bagi mereka yang bisa). Intinya, gotong royong sudah Indonesia jadi budaya, sekarang saatnya open source jadi budaya baru Indonesia,,haha

    • Yudh, ini betul-betul jadi jargon baru.

      Open Source sebagai sebuah budaya gotong royong

      Wah, betul juga. Di dalam Open Source budaya gotong royong memang berkambang: (1) dikerjakan bersama-sama (dalam sebuah komunitas), (2) pertimbangan biaya tidak terlalu dipermasalahkan, (3) setiap anggota komunitas berkontribusi dengan apapun kemampuan dan latar belakang mereka, (4) untuk mencapai tujuan kebaikan bersama.

      Inspiratif sekali! Hmmm.. saatnya menyiapkan catatan, nih. Membuat tulisan tentang Open Source dan budaya gotong royong. Makasih, yaaaa!

  16. Maaf Bro…saya tidak setuju dengan statment anda tentang Sultan sebagai icon kuno……!!!! Mohon itu bisa diganti dengan yang lebih pas…Apakah jaman dulu itu brarti kuno..ndak bro..! Rasa Nasionalisme, dermawan, patriotik, gotong royong, unggah-ungguh, sopan santun, sepi ing pamrih dari Sultan HB IX adalah forms of advanced technology, the technology of psychiatric…..Salam Bro

    • Eh, selamat datang di rumah ini, Kang Sarastiono. Kehormatan bagi saya dikunjungi blog-walker seperti njenengan. Tampaknya hampir semua blog peserta kontes sudah dikunjungi, ya? Nanti mudah-mudahan kita bisa kopdar di seminar penutupan lomba, ya, Kang! Minggu depan, lho!

      Mengenai ikon “kuno”–sama seperti kata-kata yang lain–memungkinkan interpretasi yang berbeda, bahkan secara sinonimi bisa jadi orang-perorang memiliki pemaknaan yang beragam. Mengapa? Karena hakikat bahasa itu arbitrer, mencukupi kebutuhan berbahasa orang-perorang.

      Meski demikian, agar tidak menimbulkan perdebatan mari kita mengacu ke beberapa panduan baku.

      Tesaurus bahasa Indonesia memberikan makna seperti ini: antik, arkais, baheula, kedaluwarsa, kolot, konservatif, konvensional, lama, ortodoks, primitif, purba, purbakala, tradisional, usang

      Temukan makna tersebut pada laman ini

      Kamus Besar Bahasa Indonesia malah memberi arti seperti ini:

      adjective
      1. 1 lama (dr zaman dahulu); dahulu kala: barang-barang –; 2 kolot; tidak modern: pendapat — harus ditinggalkan;
      ke·ku·no·an n 1 segala sesuatu yg bersifat kuno; 2 kekolotan

      Silakan kunjungi laman ini

      Sebenarnya hal yang ingin saya ungkap dari paragraf itu adalah “seseorang yang hadir dari masa lampau, zaman baheula” dalam konteks waktu. Tua (kuno) jika dibandingkan dengan manusia sekarang dan lampau jika dibandingkan dengan modernitas saat ini. Penggunaan “kuno” dalam konteks itu bukan makna peyoratif (mengurangi nilai kebaikan) Sultan HB IX, namun lebih banyak pada pembandingan kontras Sultan HB IX dengan Open Source.

      Apa kabar, Kang? Sudahkah ada perkenalan dengan Open Source di MM UGM? Atau jangan-jangan saya yang kuno dan tidak tahu jika MM ternyata sudah sejak lama ber-Open Source?

      Salam hangat. Semangat buat UGM kita!

  17. terima kasih atas partisipasinya mengikuti kontes blog UGM

    • Sami-sami, Kang.
      Blog walking njenengan mirip safari Ramadhan, ya. Satu per satu site dikunjungi.
      Profesiat, mudah-mudahan acara seperti ini berkembang terus.

Leave a Reply

Required fields are marked *